PMKRI- St Anselmus : Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan Seringkali pemikiran minoritas menjadi tembok penghalang bagi kita orang katholik khususnya yang terjadi pada beberapa kalangan mahasiswa katholik di kota
lebih baik menyalakan lilin daripada hanya mengutuk kegelapan".. meski korek api hanya tahan nyala sebentar,,, tapi itu jauh lebih baik yg memberi manfaat bagi kita sendiri atau lingkungan (teman kita yg juga kegelapan),, dari pada hanya mengutuk kegelapan,,, daripada terus menerus mengutuk kegelapan itu sendiri. ndewek gak iso
Itulahyang DJPBN lakukan, seperti kata peribahasa, "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". Apakah cahayanya menyala? Pada tahun 2013, hasil Spending Review menjadi dasar penyesuaian anggaran baseline menjadi insiatif strategis senilai 40 triliun.
Lebihbaik skip waktu untuk mengeluhnya dan mulai bertindak dengan menyalakan "Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan." - Eleanor Roosevelt Mengutuk kegelapan terkadang hanya dilakukan oleh orang-orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk mengeluh tanpa ada aksi lebih lanjut.
Ilustrasi(Foto: pexels) Lebih Baik Menyalakan Setitik Cahaya daripada Mengutuk Kegelapan Judul tulisan di
Sebagaiseorang anak, saya suka menyalakan WGN-TV dan menonton Chicago Cubs bermain Baseball. Saya juga menikmati menjaga skor menggunakan kartu skor Baseball. Lebih Baik Menyalakan Lilin daripada Mengutuk Kegelapan Lebih Baik Menyalakan Lilin daripada Mengutuk Kegelapan ; Bijaksana Memanfaatkan Harta Bijaksana Memanfaatkan Harta ; Seorang
OiwQgMx. APA yang terlintas dalam benak Anda ketika membaca salah satu benda ini ? Anda mungkin hanya berpikiran bahwa lilin cuma sekedar benda kecil yang tak berarti. Dan akan terlihat berarti bila terjadi gelap. Lilin akan menerangi kita dalam kegelapan dengan cahaya yang ia miliki. Allah memisalkan petunjuk dengan cahaya, kesesatan sebagai gelap. Ini mengisyaratkan, pasukan kesesatan tak memiliki sedikitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan cahaya menghilang. Sepanjang sejarah, umat kita mengalami kesesatan ketika roda pergerakan syiar dakwahโ berhenti bergerak. Di sini tersirat sebuah kaidah syiar dakwah. Bahwa gelap yang menyelimuti langit kehidupan kita, sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita mau menyalakan lilin syiar ini kembali. Berhentilah mengikuk gelap. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya. Kita tak perlu memanggil matahari untuk mengusirnya. Tidak juga bulan. Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan kutukan. Sama seperti tak bergunanya, ratapan di depan sebuah bencana. Musibah, jahiliyah, kekalahan yang sekarang merajalela di seantero dunia Islam kita, tak perlu di islahโ dengan kutukan ataupun ratapan. Sebab kedua tindakan itu tidak menunjukan sikap Ijabiyahโ positif dalam menghadapi realita. โAdalah lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan.โ Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan kehadiran yang berimbang dengan kehadiran fenomena jahiliyah dalam pentas kehidupan. Ini mungkin tak kita selesaikan dalam sekejap. Tapi sikap mental imani yang paling minimal, yang harus terpatri dalam jiwa kita, adalah membuang keinginan untuk pasrah atau menghindari kenyataan. Kenyataan yang paling buruk sekalipun, tidak boleh melebihi besarnya kapasitas jiwa dan iman kita untuk menghadapinya. Di sini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah saatnya kita membuang kecenderungan meremehkan potensi diri kita. Ketika kita mempersembahkan sebuah amal yang sangat kecil, saat itu kita harus membesarkan jiwa kita dengan mengharap hasil yang memadai. Sebab amal yang kecil itu, selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal yang lebih besar. Ibnul Qayyim mengatakan, sunnah yang baik, akan mengajak pelakunya melakukan saudara-saudaraโ sunnah itu. Akhirnya, tutuplah matamu dan nyalakan lilin, lalu, โKatakanlah, telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna.โ - - diambil dari buku Arsitek Peradaban, ditulis oleh ust. Anis Matta Lc. -
๏ปฟKompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Disaat semua terasa buntu, disaat harapan terasa begitu amat jauh... bukan berarti kiamat sudah dekat. Tapi saat itu Alloh sedang mendekat bicaralah padaNYA..."Gusti, please aku mohon bantuanMU". Tidak perlu mendikte Alloh dengan minta ini dan itu, karna Dia maha memahami. Jangan mengeluh, karna itu hanya akan menambah beban berat kinerja otak dan liver. Selalu ingat yang simbok katakan, "lebih baik menyalakan lilin...daripada mengutuk kegelapan"...Gustiku, pagi ini aku sedang emosi jiwa tingkat mohon bantuanMU redakan emosi ini. Lihat Catatan Selengkapnya
Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya berbeda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Apa kamu mau hidup sendirian dimuka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?โ Gus Mus Akhir-akhir ini, menjelang kontestasi pemilihan Presiden 2019 yang akan datang. nampaknya sebagian dari kita sering dihadapkan pada situasi saling membenci hate speech antar sesama, entah berbagai motif dihadapkan. Mulai dari benci yang bermula dari perbedaan cara beragama, perbedaan etnis sampai pada perbedaan dalam pilihan politik. Terlepas dari itu, yang menjadi persoalan, apakah dengan perbedaan-perbedaan yang demikian itu harus kita sikapi dengan kebencian?. Sebagai contoh misalnya,kita lihat tindakan persekusi yang terjadi di bundaran Hotel Indonesia HI pada bulan Mei kemarin 5/18 bentrokan antara massa yang menggunakan kaos bertagar dia sibuk bekerjaโ dan yang bertagar 2019 ganti presidenโ. Entah bagaimanapun persoalan ini dinarasikan, tetap ini merupakan pemandangan yang sungguh tidak mengenakan tentunya bagi kita . Tidak cukup sampai disitu, sebagian dari kita bahkan seakan tidak mau menerima perbedaan tersebut, lanjut menjadi sebuah Fitnah, cacian dan makian yang tentunya tidak ingin kita harapkan kehadirannya. Kini, kata munafikโ dan dunguโ menjadi sebuah term yang sangat familiar untuk didengar sehari-hari. Sebenarnya jika kita ingin menelisik lebih dalam, bagaimana persoalan kebencian ini didudukan. Kita akan mendapati logika semacam wilayah hitam putih. Setiap kebenaran yang kita yakini akan kita anggap putih, dan selain dari putih itu berwarna hitam. Sulit bagi kita, untuk menganggap bahwa ternyata ada warna lagi selain dari duaโ ini. Yang Perlu Diperhatikan dalam Ber-amar-maโruf-nahi-munkar Sesungguhnya kebenaran itu sebuah kaca besar yang dipegang Tuhan, lalu jatuh ke bumi dan berpecah belah, manusia satu per satu memegang pecahan itu dan menganggapnya sebagai kebenaran secara utuh- Jalaludin Rumi Secara tidak langsung Rumi ingin mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang sejati kecuali yang dipegang oleh Tuhan. Mungkin, sebagian dari kita boleh-boleh saja untuk merasa benar, tetapi tidak dengan merasa paling benar. Berbicara tentang kebenaran, agama menawarkan konsep Amar Maโruf Nahi Munkar di dalam wilayah saling mengingatkan kebenaran satu sama lain. Lanjut, lebih spesifik Amar Maโruf Nahi Munkar lebih dititik-fokuskan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran, dengan tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Ketika kita Menerapkan Amar Maโruf Nahi Munkar mungkin mudah dalam batas tertentu tetapi akan sangat sulit apabila sudah terkait dengan konteks bermasyarakat dan bersosial. Oleh karena itu orang yang melakukan Amar Maโruf Nahi Munkar harus mengerti betul terhadap perkara yang akan ia tindak, agar tidak salah dan keliru dalam bertindak. Yang menjadi sebuah catatan tersendiri adalah ketika kita ber-nahi-munkar. Bisa jadi, kita menganggap itu adalah sebuah perbuatan yang munkar menurut pemahaman yang kita miliki, tetapi ternyata tidak jika menurut orang lain. Ternyata perbuatan Nahi Munkar tidak bisa kita laksanakan semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa ketentuan-ketentuan yang harus kita miliki sebelum melaksanakannya. Di dalam kitab Tanbiihul Ghafiliin karangan Ibnu An Nahas, kitab al Amru bil maโruf wa an-nahyu anil munkar karangan al-Qadhy abu yaโla juga kitab al-adabu syariโyah karangan Ibnu Muflih dikatakan bahwa ada empat syarat yang harus menjadi perhatian kita sebelum melaksanakan perbuatan Nahi munkar, empat syarat tersebut adalah Perbuatan tersebut benar-benar suatu kemungkaran kecil atau besar Kemungkaran tersebut masih ada Kemungkaran tersebut nyata tanpa dimata-matai Kemungkaran tersebut bukan termasuk perkara Khilafiyah Jadi jelas disini, ada sebuah wilayah dimana kewajiban ber-nahi munkar seketika gugur apabila perbuatan yang dimaksud masih bersifat khilafiyah. Banyak sekali dari kita, yang sangat bersemangat sekali di dalam mengingatkan perbuatan dosa kepada saudara kita. Padahal apa yang diingatkan tersebut masih berupa khilafiyah menurut para ulama. Mirisnya, tidak hanya berhenti disitu, perbuatan khilafiyah tersebut di kemudian malah bermetamorfosa menjadi sebuah perkara yang harus disikapi dengan kebencian dan kemarahan. Semua mengatakan pihaknya yang paling benar sementara pihak yang lain sesat, kafir dan munafik dan -lagi-lagi- semuanya berlindung dibelakang nama Amar Maโruf Nahi Munkarโ. Rasulullah Tidak Mau Umatnya Saling Melaknat dan Mencela Dengan hadirnya pemandangan-pemandangan dimana sesama Muslim seakan saling beradu kemarahan dan kebencian, sejenak kita bisa merenung apakah memang ajaran jungjungan kita baginda Nabi Muhammad Saw memang demikian adanya?. Jika kita mau menelisik sedikit, ada Sekian banyak hadits Nabi Saw menganjurkan kepada umatnya untuk tidak saling melaknat dan mencela kepada sesama, diantaranya hadis yang berbunyi bahwasanya Nabi Saw bersabda โMencela seorang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiranโ HR Bukhari dan Muslim Juga hadis yang berbunyi Dari Abu Hurairah, ia berkata, dikatakan kepada Rasulullah Saw โYa Rasulullah, berdoalah celaka atas orang-orang Musyrik !โ beliau bersabda โSesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang laknat, tetapi aku diutus sebagai Rahmatโ HR Muslim Dari kedua hadis ini, tentunya kita bisa menyimpulkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama makhluk Allah Swt. Salah satu ulama kharismatik asal Tanggerang, Habib Jindan bin Novel dalam ceramahnya mengenang Maulid Nabi di Istana kepresidenan pada tahun lalu, menjelaskan bahwa hadis yang kedua ini berlangsung dalam konteks ketika Rasulullah dalam keadaan peperangan. Bayangkan, dalam keadaan kondisi seperti demikian pun, Rasulullah tetap enggan melaknat orang-orang Musyrik tersebut. Padahal orang-orang Musyrik tersebut lah yang membunuh saudara-saudara Muslim pada saat itu. Selanjutnya, kita pun bisa menyimpulkan, kalau Rasulullah saja enggan dalam melaknat seorang Musyrik, apalagi melaknat kepada sesama Muslim?. Belakangan ini, nampaknya sering kita dihadapkan pada suasana betapa mudahnya kata โmunafikโ,โdunguโ sampai โkafirโ dilontarkan, baik itu dari kalangan muslim kepada nonmuslim, atau pun dari muslim kepada muslim lagi. Mirisnya, mereka-mereka yang melontarkan ini, selalu berlindung dibelakang kata menegakan agamaโ, padahal agama mana yang mengajarkan untuk mencela kepada sesama. Yang semestinya menjadi catatan, Seorang yang selalu melakukan maksiat pun tidak semestinya untuk dicela, dimaki, dan dihujat sedemikian rupa. Mereka-mereka ini adalah orang kehilangan cahaya keagamaan, berada pada kegelapan yang nyata, jika kita menghujat mereka, tidak akan lahir kesadaran keagamaan di dalam diri mereka, sebab apa? Yang ada didalam hati mereka hanya lah prasangka yang buruk terhadap citra agama kita. Jika anda ingin berdakwah dengan sasaran seorang pencuri, apakah perlu untuk mengatakan kepadanya bahwa โanda adalah seorang pencuri!โ atau โdasar pencuri!โ?. Tentunya hal seperti itu adalah hal yang tidak perlu bukan?, bukan ajaran Agama yang sang pencuri terima, yang ada pencuri malah kabur menjauh dari kita. Kegelapan ada tidak untuk dihujat, tapi untuk diberi penerangan. Kalau kita sedang berada pada sebuah ruangan yang gelap gulita, tidaklah akan membawa perubahan pada kondisi yang lebih baik jika kita terus menerus mengeluh dan membenci kegelapan, ambilah lilin kesana untuk membawa pada keadaan yang lebih baik. [zombify_post]
Oleh Ustadz Fuad Al Hazimi โ Tidak sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional. Donasi Situs Islam Arrahmah Arrahmah Care Rp 0terkumpul Sungguh alangkah baiknya jika kita merenungi kata-kata bijak ini yang sejujurnya saya tidak tahu dari mana asalnya dan siapa yang pertama kali mengucapkannya โLebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapanโ โItโs Better to light a candle than curse the darknessโ Atau dalam bahasa Arab nya ุงูุฃูุถู ุฃู ุชุถูุก ุดู
ุนุฉ ู
ู ุฃู ููุนู ุงูุธูุงู
Mengutuk kegelapan tidak akan menjadikan gelap sirna tetapi justru menambah pengapnya suasana hati. Mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan. Karena itu sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz yang menasehati putranya ุณุฃุญูู ูู ูู ููู
ุณูุฉ ูุฃู
ูุช ุจุฏุนุฉ โSetiap hari aku akan menghidupkan satu sunnah dan mematikan satu bidโahโ Dan hasilnya sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama, Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz berhasil menghapuskan bidโah-bidโah yang biasa dilakukan umat Islam di bawah kekhalifahannya hanya dalam waktu dua setengah tahun โฆ!!!! Allah Azza Wa Jalla Berfirman ูููู ููููู ููุนูู
ููู ุนูููู ุดูุงููููุชููู ููุฑูุจููููู
ู ุฃูุนูููู
ู ุจูู
ููู ูููู ุฃูููุฏูู ุณูุจููููุง โKatakanlah โTiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masingโ. Maka Rabb mu Yang lebih Mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nyaโ. QS Al Israโ 84 ูููููู ุงุนูู
ููููุง ููุณูููุฑูู ุงูููููู ุนูู
ูููููู
ู ููุฑูุณูููููู ููุงููู
ูุคูู
ูููููู ููุณูุชูุฑูุฏููููู ุฅูููู ุนูุงููู
ู ุงููุบูููุจู ููุงูุดููููุงุฏูุฉู ููููููุจููุฆูููู
ู ุจูู
ูุง ููููุชูู
ู ุชูุนูู
ูููููู โDan katakanlah โBekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakanโ. QS At Taubah 105 ูููู ุฃูุนูููู
ู ุจูููู
ู ุฅูุฐู ุฃูููุดูุฃูููู
ู ู
ููู ุงููุฃูุฑูุถู ููุฅูุฐู ุฃูููุชูู
ู ุฃูุฌููููุฉู ููู ุจูุทูููู ุฃูู
ููููุงุชูููู
ู ููููุง ุชูุฒูููููุง ุฃูููููุณูููู
ู ูููู ุฃูุนูููู
ู ุจูู
ููู ุงุชููููู โDan Dia Allah lebih Mengetahui tentang keadaan mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling Mengetahui tentang orang yang bertakwaโ. QS An Najm 32 Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda ุทููุจูู ููู
ููู ุดูุบููููู ุนูููุจููู ุนููู ุนููููุจู ุงููููุงุณู โBeruntunglah orang yang disibukkan dengan mengintrospeksi aib dirinya sehingga tidak sempat mencari-cari aib saudaranyaโ HR. Bazzar dengan sanad Hasan โ Subulus Salam 7/197 ุงููููููู
ูู ุฅูููู ุฃูุณูุฃููููู ุงูุนููููู ููุงูุนูุงููููุฉู ููู ุงูุฏููููููุง ููุงูุขุฎูุฑูุฉูุ ุงููููููู
ูู ุฅูููู ุฃูุณูุฃููููู ุงูุนููููู ููุงูุนูุงููููุฉู ููู ุฏููููู ููุฏูููููุงูู ููุฃูููููู ููู
ูุงูููุ ุงููููููู
ูู ุงุณูุชูุฑู ุนูููุฑูุงุชููุ ููุขู
ููู ุฑูููุนูุงุชููุ ุงููููููู
ูู ุงุญูููุธูููู ู
ููู ุจููููู ููุฏููููุ ููู
ููู ุฎููููููุ ููุนููู ููู
ูููููุ ููุนููู ุดูู
ูุงูููุ ููู
ููู ูููููููุ ููุฃูุนููุฐู ุจูุนูุธูู
ูุชููู ุฃููู ุฃูุบูุชูุงูู ู
ููู ุชูุญูุชูู โYa Allah..! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku aibku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku dalam kondisi lengahโ HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani samirmusa/
ALAT bangun peradaban dalam dunia ketiga adalah satu, sadar baca-tulis. Sentuhan jemari dalam tulisan ini akan bermuara pada satu pembahasan, menggagas ke depan. Apa yang perlu digagas? Siapa yang harus mengawal? Agaknya tulisan ini Sedikit terdengar seperti nada bicara seorang pengidap asma yang berbau utopis. Tidak masalah. Bukankah perubahan-perubahan besar dalam dunia praktis berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Steve Covey aku-lirik dengan kalimatnya yang seperti berbau sarkasme tercium seperti berikut, โApa yang akan kau tinggalkan di antara kedua patok nisanmu?โ, atau kutipan dari penyair nasional dari Jombang, Sabrank Suparno dengan puisinya yang berucap, โPenulis tak akan lenyap dari dunia, sebaliknya dunia bisa lenyap dalam diri penulis.โ Maka tamsil yang lahir dari kedua kutipan tersebut adalah hal sangat mungkin bila kita kontekskan bagi masyarakat Nahdlatul Ulama NU dalam upaya pengembangan kebudayaan dan peradaban. Pendek kata, warga NU sudah semestinya kembali dan kembali memaksimalkan sadar baca-tulis, SABTU. Sebab hal ini secara umum akan menjadi wasilah kebudayaan yang berpotensi mengangkat inteligensi dalam peradaban manusia. Tentu kekuatan pergulatan budaya Sabtu memiliki filosofi yang menghistoris. Pentingnya budaya baca-tulis dalam kehidupan NU menjadi tantangan dan peluang besar yang โmungkinโakan berkontribusi atas perubahan kebudayaan di Indonesia. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyโari misalnya, aku-lirik memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang luar biasa. Mengapa kita tidak membaca dan menulis? Kita sering mengagumi beliau tetapi lupa mengikuti kebiasaan beliau yang luar biasa dampaknya terhadap peradaban Islam dan Indonesia. Berkaca pada Jepang, Eko Laksono dalam banyak tulisannya berucap, โBangsa Jepang adalah pembaca terhebat di dunia. Elizabeth I, Napoleon, Hitler, Carnegie, Akio Morita, dan Bill Gates semuanya pembaca.โ Di Jepang, antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga bergerak bersama untuk membudayakan baca-tulis. Tradisi ujian nasional misalnya, di Jepang justru merupakan budaya yang dinanti bukan sebaliknya dipersoalkan. Saat itulah, maka anak-anak usia 12-13 tahun belajar keras sampai larut malam, sampai-sampai tidur dalam semalam hanya 2-3 jam per hari. Itu pun, berlangsung hampir tiga bulan. Ujian nasional di Jepang dikenal dengan nama Shiken Jigoku Neraka Ujian. Belum lagi, ibu-ibu di Jepang meskipun mereka terdidik rata-rata sarjana bahkan sampai bergelar doktor, lebih memilih mendampingi anak-anak belajar di rumah. Di Jepang dikenal dengan apa yang disebut Kyoiku Mama Ibu Pendidikan. Mereka akan meneliti dengan cermat apa yang telah dipersiapkan, dilakukan, dan dihasilkan oleh anak-anaknya. Mereka mempelajari bahan-bahan pelajaran sekolah dan mendampingi anak. Mari belajar budaya baca-tulis bangsa Jepang. maka ada pokok-pokok pengalaman yang aku-lirik sangat menarik. Pertama, budaya membaca di Jepang luar biasa. Indikasinya, banyak toko buku yang tersebar. Ini terkait dengan sifat tekun, pekerja keras, dan keinginan untuk selalu belajar. Jumlah toko buku di Jepang sama banyaknya dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat AS. Ironisnya, negeri adidaya itu 26 kali lebih luas dan dua kali berpenduduk lebih banyak daripada Jepang. Kedua, kuatnya tradisi belajar dan membaca. Keinginan selalu belajar telah tertanam kuat pada warga Jepang. Ini didasarkan pada kebiasaan i sifat selalu memperbaiki hasil kerja, dan ii adanya budaya baca-tulis yang mengakar besar di Jepang. Negeri Sakura menyediakan banyak fasilitas membaca di tempat umum. Di stasiun, bus umum, kereta, atau halte, antre di kantor-kantor pelayanan masyarakat, mudah ditemui orang-orang yang beraktivitas membaca. Ketiga, kuatnya dukungan fasilitas membaca. Fasilitas baca-tulis mudah dijangkau oleh warga Jepang. Kebahagiaan bagi penulis dan penerbit buku. Ternyata, sesuai dengan data yang dirilis Bunka News, jumlah toko buku bekas menempati persentase sepertiga di antara total jumlah toko buku di Jepang. Keberadaannya dinilai sebagai penolong bagi para peminat buku. Keempat, keluarga sebagai penyangga tradisi baca-tulis. Sebagaimana telah disinggung di awal, bahwa orang tua di Jepang khususnya ibu mendampingi dan ikut mempelajari apa yang sedang dipelajari anaknya. Alangkah indahnya jika ini terjadi di Indonesia. Kelima, penghargaan yang tinggi oleh pemerintah dan masyarakat. Kondisi demikian menjadi sangat penting mengingat budaya baca-tulis Jepang itu telah mengakar dari atas ke bawah. Baik itu pemimpin, birokrat, guru, dosen, artis, dan pelaku seni lainnya; semuanya memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya baca-tulis. Belajar dari pengalaman inspiratif negara Jepang maka merindukan tradisi Sabtu, di kalangan NU menjadi mimpi besar yang membutuhkan dukungan semua pihak. Semua elemen, semua unsur, dan semua aspek yang ada di NU. Mimpi besar budaya ini tentu secara historis bersifat Islami dan secara global merupakan tuntutan zaman yang tidak bisa dihindari. Membudayakan baca-tulis yang aku-lirik sesungguhnya tidaklah sulit mengingat keduanya merupakan keterampilan. Kemahiran sebuah keterampilan hanyalah hukum kali dari berapa sering kita melakukannya. Akselerasi kemahiran baca-tulis dengan sendirinya menuntut frekuensi optimal jika menginginkan hasilnya maksimal pula. Masyarakat berbudaya baca-tulis akan menjadi aset besar bagi suatu bangsa. Maka mari menyalakan lilin berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Daripada mengutuk kegelapan NU dengan anggapan-anggapan basis NU hanya pada kegiatan-kegiatan spiritual-spiritual semata; pengajian demi pengajian, dan lain-lain yang mengakar rumput lainnya. Mari nyalakan! * * Aktivis rebahan di PASCA Tahfidzul Qurโan Sukorejo.
lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan